Fashion FashionCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
general

Fashion di Ujohbilang: Dari Pasar Tradisional ke Gaya Kekinian

Cerita tentang bagaimana fashion di Ujohbilang berkembang, dari kain tenun tradisional hingga adaptasi tren modern yang unik.

29 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Ayu Kurniawan
Fashion di Ujohbilang: Dari Pasar Tradisional ke Gaya Kekinian

Pagi ini sambil minum kopi di warung dekat pasar, saya memperhatiin seorang remaja lewat dengan celana baggy motif batik dipadukan hoodie oversized. Dua tahun lalu, pemandangan kaya gini jarang banget kelihatan di Ujohbilang. Tapi sekarang, percampuran antara tradisi dan tren global mulai nemuin bentuknya sendiri di sini.

Batik Nggak Cuma untuk Acara Resmi

Dulu, kain batik cuma dikeluarin waktu kondangan atau acara pemerintahan. Sekarang anak-anak muda di sini mulai berani bereksperimen. Saya sering liat temen-temen kuliah pake kemeja batik kotak-kotak sama jeans robek, atau bahkan paduin kain tenun khas Kalimantan dengan sneakers warna mencolok.

Perubahan ini nggak lepas dari pengaruh kreator konten lokal kayak @BatikModernID yang nunjukin cara styling batik buat gaya kasual. Toko-toko kecil di pasar juga udah mulai jual potongan batik lebih pendek, khusus buat dibuat kemeja atau outer.

wanita memadukan batik dengan denim

Pasar Tradisional Jadi Sumber Inspirasi

Yang unik di Ujohbilang, pasar tradisional justru jadi tempat favorit para pencinta fashion. Ibu-ibu penjual kain di Pasar Besar sekarang udah paham permintaan anak muda. "Ini motifnya lagi laris," kata Bu Siti sambil nunjukin kain dengan pola geometris bold yang katanya sering dibeli buat dijadiin jumpsuit.

Saya sendiri suka berburu bahan di pasar buat dijahit sesuai keinginan. Harganya bisa separuh dari mall, tapi kualitasnya nggak kalah. Kemarin, saya nemu kain katun dobby biru muda yang sempurna buat bikin kemeja ala-ala vintage.

Adaptasi Tren Global dengan Sentuhan Lokal

Tren bucket hat sempet booming tahun lalu, tapi di sini bentuknya dimodifikasi dengan tambahan bordir motif Dayak. Begitu juga model baju oversized yang di beberapa toko lokal disulap dengan potongan lebih pendek biar sesuai dengan postur tubuh kebanyakan orang sini.

Menurut artikel di Detik Fashion, fenomena glokalisasi fashion kayak gini lagi terjadi di berbagai kota kecil. Masyarakat nggak cuman meniru tren internasional, tapi nyaring dan nyesuain dengan kenyamanan serta identitas lokal.

Sore ini, sambil jalan-jalan di tepian Mahakam, saya liat lagi buktinya. Seorang bapak-bapak pake kaos distro biasa, tapi di lengannya terikat sarung kotak-kotak merah yang biasa dipake nelayan. Fashion di Ujohbilang mungkin nggak akan pernah jadi pusat mode, tapi justru di situlah keunikannya.

Tag: #fashion lokal #tren Indonesia #gaya sehari-hari